Liputan6.com, Jakarta - Lonjakan penjualan produk perawatan kulit selama pandemi menjadi bukti bahwa masyarakat semakin sadar pentingnya menjaga kesehatan kulit. Studi Inventure dan Alvara Research Center terhadap 532 responded menemukan, 78,2% di antaranya membeli produk skincare selama periode tersebut.
Dilansir dari GWS Medical, meski pembatasan mobilitas telah dicabut dan aktivitas masyarakat kembali normal, para ahli mengingatkan bahwa perawatan kulit tetap harus menjadi prioritas.
“Jaga baik-baik kulitmu, karena itu lah yang akan kamu kenakan setiap hari sepanjang hidup,” kata pakar perawatan kulit, Renee Rouleau, menggarisbawahi pentingnya perawatan kulit jangka panjang.
Kulit sendiri berperan vital sebagai organ terbesar tubuh yang melindungi dari paparan bakteri, polusi, hingga sinar ultraviolet. Kondisi ini juga sering mencerminkan kesehatan tubuh seseorang, terlihat dari tekstur, warna, dan kelembapannya.
Dengan kesadaran ini, berbagai tren perawatan kulit pun bermunculan, mulai dari skin minimalism yang menekankan penggunaan produk lebih sederhana, hingga fokus pada perlindungan skin barrier menggunakan bahan seperti ceramide.
Skin Minimalism: Sederhana, tapi Efektif
Tren skin minimalism kini semakin populer karena menawarkan rutinitas yang lebih sederhana, efisien, namun tetap efektif. Jika sebelumnya banyak orang mengikuti 10-step Korean skincare routine dengan berlapis-lapis produk, kini cukup 2-4 langkah utama sudah dianggap memadai.
Perawatan kulit yang lebih sederhana, diantaranya:
- Cleanser
- Moisturizer
- Sunscreen
Para dermatolog menilai, langkah sederhana ini justru lebih mudah dijaga konsistensinya dalam jangka panjang. Selain hemat waktu dan biaya, skin minimalism juga menekan risiko iritasi akibat penggunaan terlalu banyak bahan aktif sekaligus.
Namun, tantangan utamanya adalah memilih produk yang tepat dan multifungsi, seperti hybrid toner yang juga berfungsi sebagai pelembap. Uji coba sederhana seperti patch test di kulit bagian dalam siku bisa dilakukan sebelum penggunaan rutin.
Dengan pendekatan minimalis ini, perawatan kulit tidak lagi terasa merepotkan, melainkan menjadi kebiasaan sehat yang mudah dipraktikkan sehari-hari.
Skin Barrier: Lapisan Pelindung yang Wajib Dijaga
Skin barrier atau lapisan terluar kulit merupakan perisai penting yang menjaga kelembapan dan melindungi wajah dari paparan polusi, sinar matahari, hingga bakteri penyebab jerawat. Sayangnya, gaya hidup modern sering membuat skin barrier rentan rusak, ditandai dengan kulit kering, mudah iritasi, hingga munculnya kemerahan.
Ahli dermatologi menyarankan penggunaan produk dengan kandungan ceramide untuk memperbaiki lapisan pelindung ini. Ceramide adalah molekul lemak alami yang jumlahnya menurun seiring bertambahnya usia. Dengan perawatan yang tepat, skin barrier dapat pulih dalam 1–2 minggu, sehingga kulit kembali sehat, lembap, dan kenyal.
“Ceramide adalah salah satu bahan terbaik untuk melembapkan sekaligus memperkuat skin barrier,” jelas dermatolog, dr. Dana Stern. Menjaga skin barrier bukan hanya soal kecantikan, tetapi juga kesehatan kulit jangka panjang agar tetap terlindungi dari penuaan dini.
Cinta pada Kulit, Cinta pada Diri Sendiri
Perawatan kulit juga erat kaitannya dengan kesehatan mental. Banyak orang merasa tertekan dengan standar kecantikan yang menuntut kulit putih, mulus, dan bebas noda. Padahal, kulit yang sehat tidak harus sempurna.
Menerima kondisi kulit, bahkan dengan jerawat atau keriput, adalah bagian dari self love yang penting. Stres yang berlebihan justru bisa memperparah masalah kulit seperti jerawat dan eksim. Karena itu, mencintai kulit apa adanya menjadi langkah awal untuk menenangkan pikiran sekaligus menjaga kesehatan kulit.
Tiga produk dasar yang sebaiknya tidak dilewatkan adalah cleanser, moisturizer, dan sunscreen. Rutinitas sederhana ini bisa memberi efek positif, tidak hanya pada penampilan, tetapi juga rasa percaya diri.