Liputan6.com, Jakarta - Penderita stroke ringan memiliki peluang sembuh yang cukup besar jika mendapatkan penanganan cepat dan tepat, tanpa harus khawatir kondisi berkembang menjadi stroke berat.
Dokter Spesialis Bedah Saraf Sub Spesialis Bedah Saraf Neurovaskular di Siloam Hospitals Lippo Village, Dr. Harsan, Sp. BS, K, menjelaskan langkah-langkah yang perlu dilakukan ketika ada anggota keluarga yang mengalami penyakit penyumbatan pembuluh darah di otak.
Menurutnya, gejala sekecil apapun yang mengarah pada stroke harus segera diperiksakan ke rumah sakit terdekat. Misalnya, sakit kepala mendadak dan hebat, seperti dipukul, sebaiknya segera dikonsultasikan ke dokter.
"Jangan anggap remeh gejala yang ditunjukkan tubuh. Sekecil apapun, segera lakukan pemeriksaan, terutama jika memiliki faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, obesitas, atau merokok," kata Dr. Harsan.
Jika yang rusak adalah pembuluh darah utama, kerusakan otak bisa lebih luas. Gejala yang muncul pun beragam, seperti bicara mendadak tidak jelas, tangan mendadak lemas, atau kesulitan bergerak.
Cara Kerja dengan Zat Kontras
Pada stroke ringan, gejala bisa muncul tiba-tiba, misalnya berbicara cadel, namun bisa kembali normal setelah beristirahat. Penentuan apakah stroke ringan atau berat bukan dilakukan oleh pasien atau keluarga, melainkan dari sisi medis.
Ketika pasien datang ke rumah sakit dengan gejala stroke, dokter akan melakukan pemeriksaan CT-Scan atau MRI untuk mendeteksi adanya sumbatan pembuluh darah di otak. Jika ditemukan penyumbatan, Siloam Hospitals akan melanjutkan pemeriksaan dengan Digital Subtraction Angiography (DSA). Teknik ini menampilkan pembuluh darah otak secara detail dengan menghilangkan bayangan tulang dan jaringan sekitarnya.
"Dengan DSA, terlihat pembuluh darah yang tersumbat di mana, sebesar apa, dan berapa persen, sehingga kami bisa menentukan langkah pengobatan selanjutnya," jelas Dr. Harsan.
Prosedur DSA dilakukan dengan menyuntikkan zat kontras ke dalam pembuluh darah menggunakan kateter kecil. Zat ini membantu menampilkan bentuk pembuluh darah secara jelas, tanpa tertumpuk dengan tulang atau organ lain, bahkan bisa dilihat dalam tiga dimensi.
Siapa yang Membutuhkan Metode DSA?
Hasil pemeriksaan ini memungkinkan dokter mendeteksi penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah, pelebaran pembuluh darah (aneurisma) yang berisiko pecah, hingga kelainan pembuluh darah seperti arteriovenous malformation (AVM).
"Pemeriksaan DSA memberikan informasi sangat detail terkait kondisi pembuluh darah otak. Hal ini membantu kami merencanakan terapi terbaik, baik untuk pencegahan maupun penanganan kasus vaskular kompleks," ujar Dr. Harsan.
Pemeriksaan DSA direkomendasikan bagi pasien dengan gejala seperti sakit kepala hebat mendadak, pusing berulang, riwayat stroke atau stroke ringan, gangguan bicara, atau kelemahan pada salah satu sisi tubuh. Selain itu, jika CT Scan/MRI menunjukkan kelainan pembuluh darah atau ada riwayat keluarga dengan aneurisma, pemeriksaan DSA juga disarankan.
Semakin cepat pasien mendapatkan penanganan medis, semakin besar kemungkinan stroke bisa sembuh. Periode emas penanganan adalah 6 jam sejak gejala awal muncul. Di Kementerian Kesehatan, hal ini dikenal dengan akronim SEGERA: senyum tidak simetris, gerak separuh tubuh melemah tiba-tiba, bicara pelo, serta gejala tambahan seperti pandangan kabur, kebas di satu sisi tubuh, atau sakit kepala hebat mendadak.
"Saat pasien sampai di UGD, tim medis akan menanyakan jam gejala muncul. Hal ini sangat penting, karena menentukan tindakan penanganan yang tepat," kata Dr. Harsan.