Jakarta (ANTARA) - Menteri Luar Negeri RI Sugiono menyatakan bahwa fondasi ekonomi Indonesia tetap kokoh di tengah pelambatan ekonomi global akibat pemanfaatan kebijakan ekonomi sebagai alat kekuatan geopolitik.
Dalam Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri (PPTM) 2026 di Jakarta, Rabu, Sugiono mengatakan pemanfaatan kebijakan ekonomi sebagai alat kekuatan geopolitik semakin meningkat dengan perdagangan, investasi, dan teknologi semakin sering dijadikan instrumen dalam persaingan global.
“Dalam kenyataan baru ini, kekuatan ekonomi suatu negara tidak lagi semata diukur dari angka pertumbuhannya, namun juga dari kemampuannya untuk bertahan dan beradaptasi,” kata Sugiono.
Menurut Sugiono, Indonesia juga tidak kebal terhadap realitas di mana batas antara ekonomi dan keamanan semakin tidak jelas yang mengakibatkan pelambatan ekonomi global.
Namun, di tengah situasi tersebut, Sugiono mengatakan bahwa Indonesia tetap memiliki fondasi yang kokoh, yang ditandai dengan angka pertumbuhan yang berada di atas rata-rata dunia, inflasi yang terkendali, surplus perdagangan, dan tingkat realisasi investasi yang tetap tinggi.
“Fondasi ekonomi yang stabil ini memperkuat posisi Indonesia di panggung dunia dan juga penopang peran aktif Indonesia yang berkelanjutan,” kata Sugiono.
Sugiono pun menegaskan bahwa diplomasi ekonomi merupakan inti dari diplomasi Indonesia untuk meningkatkan pertumbuhan dan ketahanan ekonomi nasional, yang berlandaskan Pasal 33 UUD 1945.
Oleh karena itulah, lanjut Sugiono, sepanjang 2025, Indonesia telh menyepakati tiga perjanjian kerja sama ekonomi dengan Kanada, Peru, dan Eurasian Economic Union (Uni Ekonomi Eurasia).
Selain itu, untuk mengurangi kerentanan sistemik, Indonesia berkontribusi memperkuat inklusi keuangan, termasuk melalui mekanisme inovatif seperti QRIS yang telah memfasilitasi transaksi lintas batas di berbagai negara seperti Malaysia, Thailand, Singapura, China, dan Jepang, kata Sugiono.
Indonesia juga akan menyelesaikan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (CEPA) dengan Uni Eropa, Perjanjian Perdagangan Preferensial (PTA) dengan Mauritius, dan memastikan pelaksanaan Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-China 3.0, kata Sugiono.
Sugiono menyampaikan pula bahwa Indonesia juga akan mengimplementasikan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Indonesia-Jepang, serta mendorong kerja sama perdagangan dengan mitra-mitra baru di wilayah Afrika seperti Rwanda.
“Diversifikasi mitra ini dilakukan dengan satu kesadaran untuk mengurangi risiko dari gejolak dan perlambatan ekonomi yang dihadapi oleh mitra-mitra tradisional,” kata Sugiono.
Baca juga: HKI komitmen pacu diplomasi ekonomi lewat kesiapan kawasan industri
Pewarta: Cindy Frishanti Octavia
Editor: M Razi Rahman
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.





















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425048/original/028386900_1764209563-konate.jpg)


















