Beijing (ANTARA) - Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Beijing menyebut akan memanfaatkan bertambahnya jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di China sebagai diaspora yang dapat menjadi subjek pembangunan dan aset ketahanan nasional.
"Laporan terakhir dari Atase Pendidikan dan seluruh perwakilan kami di China, jumlah mahasiswa Indonesia di Tiongkok saat ini sudah mencapai 20 ribu orang atau seperti jumlah sebelum masa pandemi, dan memang trennya meningkat, kata Wakil Kepala Perwakilan RI di Beijing, Parulian Silalahi di KBRI Beijing kepada ANTARA, Kamis.
Hal tersebut disampaikan terkait dengan Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri (PPTM) 2026 yang disampaikan Menteri Luar Negeri Sugiono pada Rabu (14/1). Sugiono mengatakan Kementerian Luar Negeri RI pada tahun ini memprioritaskan pemberdayaan diaspora sebagai subjek pembangunan dan aset ketahanan nasional.
Parulian menyebut, peningkatan jumlah mahasiswa Indonesia itu juga karena berbagai kampus di China membuka program berbahasa Inggris serta adanya kemudahan untuk mengajukan visa pelajar maupun visa kunjungan.
"Di sisi lain, kondisi demografi China juga punya tantangan tersendiri jadi ereka juga ingin melakukan investasi terhadap anak-anak muda baik untuk mengisi lapangan pekerjaan maupun untuk menyebarkan budaya mereka termasuk 'pop culture' seperti drama China, kulinernya menjadi umum," ungkap Parulian.
Namun, hal itu menurut Parulian juga dapat dianggap sebagai hal yang baik sehingga Indonesia dapat lebih memahami budaya bisnis dan semakin banyak yang menggunakan kultur tersebut dalam berusaha.
Suasana nonton bersama Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri (PPTM) 2026 di KBRI Beijing, Kamis (14/01/2026). (ANTARA/Desca Lidya Natalia)"Kami akan berusaha perkuat diaspora kita yang ada di sini agar memanfaatkan kesempatan belajar baik belajar ekonominya maupun bahasa, budaya dan kekuatan China lainnya," tambah Parulian.
Dalam pidatonya, Sugiono menyebut Kementerian Luar Negeri sudah membentuk unit kerja yang merumuskan kebijakan pemberdayaan diaspora agar lebih terkoordinasi dan berdampak.
Sugiono juga mengatakan telah membuat beberapa inisiatif yang kita dorong bersama dengan kementerian dan lembaga lain agar dapat memudahkan mobilitas dan membuka kesempatan yang lebih luas bagi diaspora untuk bekerja dan berkontribusi di tanah airnya.
Inisiatif tersebut di antaranya yaitu identitas tunggal Nomor Induk Diaspora dan pembangunan Satu Data Diaspora dengan tujuan memastikan peran diaspora diakui, dihargai dan dioptimalkan bagi pembangunan nasional.
Menurut data Kementerian Luar Negeri, Sugiono mengatakan sepanjang tahun 2025, Indonesia telah memulangkan 27.768 Warga Negara Indonesia dari berbagai situasi krisis seperti konflik bersenjata hingga kejahatan transnasional seperti "online scam" dan judi daring.
Sugiono pun menyebut, ke depan, Kementerian Luar Negeri akan terus memperkuat kemitraan, kesiapsiagaan perwakilan, sistem peringatan dini dan juga digitalisasi layanan.
Baca juga: Natal di Beijing, Dubes Djauhari ajak WNI kenalkan Indonesia di China
Baca juga: Wakil Dubes Irene perkenalkan diri ke masyarakat di Beijing
Baca juga: KBRI Beijing pertemukan pelaku industri film dan animasi RI-China
Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor: Azis Kurmala
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.





















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425048/original/028386900_1764209563-konate.jpg)


















